Anak merupakan malaikat kecil yang senantiasa memberikan kebahagiaan dalam sebuah keluarga, menjadi penggembira di dalam rumah, menjadi penghibur kepenatan orangtua, menjadi pelepas lelas seorang ayah setelah seharian bekerja, menjad murid pertawa sang ibunda.

Ketika sudah menikah, maka hal pertama yang selalu didamba dan dinanti ialah kehadiran seorang anak di tengah keluarga. Oleh karena itu, ketika sudah memiliki anak maka sudah semestinya sebagai orangtua menjalankan kewajibannya yakni merawat, menjaga serta memeliharanya dengan semaksimal mungkin. Berikan mereka kehidupan yang layak seperti menjamin pendidikan dan kesehatannya.

Tetapi, saat ini tidak sedikit orangtua yang menelantarkan anaknya karena dianggap beban hidup. Lebih keji lagi bahkan ada yang sampai membunuhnya sejak di dalam kandungan dengan cara aborsi lalu membuang janinnya begitu saja tanpa memiliki rasa bersalah sedikitpun. Orang-orang seperti ini merupakan manusia yang tak memiliki perasaan dan hatinya telah membatu. Padahal semua itu tak lain karena perilakunya sendiri.

Sebuah peristiwa memilukan sekaligus membuat miris siapapun melihatnya yakni ketika orangtua yang semestinya menjadi pelindung bagi sang anak malah tidak melakukan hal itu. Ia bahkan menjadikan anaknya korban kekerasan.

Baru-baru ini terjadi aksi penganiayaan terhadap seorang bocah berusia enam tahun di Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Anak perempuan tersebut mengalami kekerasan dari orang terdekatnya. Mata bocah itu dicongkel oleh ayah, ibu, kakek, serta pamannya sendiri.

Saat proses pencongkelan tersebut, korban dipegangi oleh ayah dan pamannya. Sedangkan sang ibu berusaha mengeluarkan bola mata buah hatinya dengan tangan. Korban mencoba berontak, ia berteriak sekeras mungkin menahan rasa sakit, kepalanya ditundukkan agar sang ibu tak meneruskan aksinya tersebut. Namun, bukannya berhenti, wanita itu terus melancarkan aksinya.

Beruntung warga sekitar mendengar terikan itu, dan korban berhasil diselamatkan untuk langsung mendapat perawatan di rumah sakit. Diketahui bahwa aksi tersebut merupakak bagian dari pesugihan. Keluarga itu kerap kali melakukan ritual di rumahnya. Lalu, bocah korban pencongkelan mata itu tak lain akan dijadikan tumbal.

Kini, para tersangka telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya. Sedangkan korban sendiri telah mendapatkan perawatan intesif oleh pihak rumah sakit dan mendapatkan trauma helling untuk menghilangkan rasa trauma.

Sungguh miris melihat kejadian tersebut. Di zaman yang sudah maju seperti ini, pesugihan masih saja terjadi. Maka dari itu, peran pemuka agama sangat penting diharapkan. Lakukan pendampingan secara intensif dan menyadarkan masyarakat yang masih mempercayai pesugihan tersebut.

 

 

 

Sumber: https://www.kaskus.co.id/thread/6136b1b67dd49c63eb21da81/tega-bocah-ini-dicongkel-matanya-oleh-ayah-dan-ibunya-tumbal-pesugihan/?ref=homelanding&med=hot_thread&style=card